Nara tidak pernah memilih untuk ditinggalkan. Tapi sejak ia bisa mengingat, itulah satu-satunya hal yang selalu terjadi.
Di usia enam belas tahun, Nara hidup sebagai anak angkat di rumah keluarga yang tidak sepenuhnya menganggapnya keluarga. Ia menyapu lantai sebelum fajar, mencuci piring tanpa disuruh, dan menjawab setiap pertanyaan dengan kalimat yang sama: "Tidak apa-apa." Kalimat itu sudah menjadi tameng. Satu-satunya yang ia punya.
Ketika kebenaran tentang statusnya meledak di hadapannya, Nara dilempar ke jalanan dengan sebuah koper dan hati yang sudah terlalu berat untuk usianya. Ia nyaris kehilangan segalanya di tepi rel kereta, sampai tangan seorang perempuan asing menariknya mundur, membawanya ke warung kecil yang berbau minyak goreng dan teh yang terlalu manis, dan memberinya satu hal yang sudah lama hilang: tempat untuk duduk tanpa harus membuktikan apa-apa.
Lalu muncul dua orang yang mengubah hidupnya.
Santi, ibu kandung yang menyimpan masa lalu di balik senyum rapi dan rumah baru yang tidak menyisakan ruang untuk panggilan "mamah." Dan seorang pria asing bernama Pak Setya, yang datang dari kecelakaan kecil di pinggir jalan dan perlahan menjadi sosok yang tidak pernah Nara miliki: seseorang yang mendengarkan, yang hadir tanpa syarat, yang berkata "Saya bangga sama kamu" seolah kalimat itu hal paling wajar di dunia.
Untuk pertama kalinya, Nara merasa ditemukan.
Tapi hidup menyimpan satu kebenaran lagi, kebenaran yang lebih besar, lebih kejam, dan lebih menyakitkan dari semua penolakan yang pernah ia terima. Kebenaran yang akan mempertemukan semua orang yang ia cintai di satu titik, di tengah keramaian yang tidak peduli, dan memaksa Nara mengeluarkan satu kata yang belum pernah ia ucapkan seumur hidupnya.
Satu kata. Rapuh. Penuh harap.
Dan jawaban yang ia terima akan menghancurkan segalanya.
Jangan Panggil Aku Papah! adalah novel tentang anak yang belajar bahwa ditinggalkan bukan selalu berarti tidak dicintai, dan bahwa kadang, penolakan paling menyakitkan datang bukan dari ketidakpedulian, tapi dari rasa bersalah yang lebih besar dari cinta itu sendiri.